PENCEGAHAN PENYAKIT HEPATITIS

BAB 1

PENDAHULUAN

 

 

1.1  Latar Belakang

 

Penyakit hepatitis, terutama hepatitis B dan C merupakan masalah kesehatan besar dunia. Lebih dari 2 milyar penduduk dunia terinfeksi virus hepatitis B, dan lebih 360 juta menjadi pengidap kronis dan memiliki risiko sirosis dan kanker hati. Sementara itu, sekitar 130–170 juta merupakan pengidap virus hepatitis C, dengan angka kematian lebih dari 350 ribu per tahun. Walau bukan merupakan penyebab kematian langsung, tetapi penyakit hepatitis menimbulkan masalah pada usia produktif yaitu saat penderita seharusnya sebagai sumber daya pembangunan.

Penularan penyakit hepatitis tak terlepas dari kondisi lingkungan dan pola hidup masyarakat yang tidak sehat. Selain itu, hepatitis (jenis B dan C) juga dapat menyebar melalui obat-obatan dan jarum suntik.

Untuk menanggulangi kasus-kasus hepatitis yang terjadi Indonesia, pemerintah lebih cenderung menggunakan upaya kuratif atau pengobatan. Padahal, sebenarnya masih banyak upaca-upaya pencegahan dan pengobatan yang bisa dilakukan untuk menanggulangi penyakit hepatitis selain pengobatan.

1.2  Perumusan Masalah

 

Dengan menimbang latar belakang penelitian yang telah kami kemukakan, maka kami mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana cara untuk mencegah hepatitis bagi orang yang sehat?
  2. Apa tindakan yang harus dilakukan jika mengalami tanda-tanda hepatitis?
  3. Bagaimana cara untuk mengatasi penyakit hepatitis bagi penderita?

 

1.3  Tujuan Penulisan

 

Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini :

  1. Untuk mengetahui cara-cara untuk mencegah penyakit hepatitis.
  2. Untuk mengetahui tindakan yang harus dilakukan jika mengalami gejala hepatitis.
  3. Untuk mengetahui cara untuk mengatasi penyakit hepatitis bagi penderita.

 

1.4  Tinjauan Pustaka

 

Apakah hepatitis itu?

 

Hepatitis adalah istilah umum yang berarti radang hati. “Hepa” berarti kaitan dengan hati, sementara “itis” berarti radang(seperti di atritis, dermatitis, dan pankreatitis).Radang hati – hepatitis – mempunyai beberapa penyebab,termasuk:

􀁹 Racun dan zat kimia seperti alkohol berlebihan;

􀁹 Penyakit yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat dalam tubuh, yang disebut sebagai penyakit autoimun; dan

􀁹 Mikroorganisme, termasuk virus.

 

HAV, HBV, dan HCV menyerang sel hati – atau hepatosit –yang menjadi tempat yang bersahabat bagi virus untuk berkembang biak. Sebagai reaksi terhadap infeksi, sistem kekebalan tubuh memberikan perlawanan dan menyebabkan peradangan hati (hepatitis). Bila hepatitisnya akut (yang dapat terjadi dengan HAV dan HBV) atau menjadi kronis (yang dapat terjadi dengan HBV dan HCV) maka dapat bekembang menjadi jaringan parut di hati, sebuah kondisi yang disebut fibrosis. Lambat laun, semakin banyak jaringan hati diganti dengan jaringan parut seperti bekas luka, yang dapat menghalangi aliran darah yang normal melalui hati dan sangat mempengaruhi bentuk dan kemampuannya untuk berfungsi semestinya. Ini disebut sebagai sirosis. Bila hati rusak berat, mengakibatkan bendungan di limpa dan kerongkongan bagian bawah akibat tekanan di organ yang tinggi. Dampak dari kondisi ini – yang disebut sebagai hipertensi portal – termasuk pendarahan saluran cerna atas dan cairan dalam perut (asites). Kerusakan pada hati juga dapat mengurangi pembuatan cairan empedu yang dibutuhkan untuk pencernaan yang baik dan mengurangi kemampuan hati untuk menyimpan dan menguraikan bahan nutrisi yang dibutuhkan untuk hidup. Dampak lain dari hati yang rusak temasuk ketidakmampuan untuk menyaring racun dari aliran darah, yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan kesadaran dan bahkan koma. Ada lima virus yang diketahui mempengaruhi hati dan menyebabkan hepatitis: HAV, HBV, HCV, virus hepatitis delta(HDV, yang hanya menyebabkan masalah pada orang yang terinfeksi HBV), dan virus hepatitis E (HEV). Tidak ada virus hepatitis F. Virus hepatitis G (HGV) pada awal diperkirakan dapat menyebabkan kerusakan pada hati, tetapi ternyata diketahui sebagai virus yang tidak menyebabkan masalah kesehatan, dan virus ini sekarang diberi nama baru sebagai virus GB-C (GBV-C).

Hepatitis A

 

Hepatitis A disebabkan oleh virus hepatitis A(HAV). HAV menular melalui makanan/minuman yang tercemar kotoran (tinja) dari seseorang yang terinfeksi masuk ke mulut orang lain. HAV terutama menular melalui makanan mentah atau tidak cukup dimasak, yang ditangani atau disiapkan oleh seseorang dengan hepatitis A(walaupun mungkin dia tidak mengetahui dirinya terinfeksi). HAV dapat menular melalui ‘rimming’(hubungan seks oral-anal, atau antara mulut dan dubur). HAVsangat jarang menular melalui hubungan darah-ke-darah. Hepatitis A adalah bentuk hepatitis yang akut, berarti tidak menyebabkan infeksi kronis. Sekali kita pernah terkena hepatitis A, kita tidak dapat terinfeksi lagi. Namun, kita masih dapat tertular dengan virus hepatitis lain.

Tidak semua orang yang terinfeksi HAV akan mempunyai gejala. Misalnya, banyak bayi dan anak muda terinfeksi HAVtidak mengalami gejala apa pun. Gejala lebih mungkin terjadipada anak yang lebih tua, remaja dan orang dewasa. Gejala hepatitis A (dan hepatitis akut pada umumnya) dapat termasuk: kulit dan putih mata menjadi kuning (ikterus), kelelahan, sakit perut kanan-atas, hilang nafsu makan, berat badan menurun, demam, mual, mencret atau diare, muntah, air seni seperti teh dan atau kotoran berwarna dempul, dan sakit sendi. Gejala hepatitis A umumnya hanya satu minggu, akan tetapidapat lebih dari satu bulan. Kurang lebih satu dari 100 orang terinfeksi HAV dapat mengalami infeksi cepat dan parah (yang disebut ‘fulminant’), yang – sangat jarang – dapat menyebabkan kegagalan hati dan kematian.

 

Hepatitis B

 

Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). HBVadalah virus nonsitopatik, yang berarti virus tersebut tidak menyebabkan kerusakan langsung pada sel hati. Sebaliknya, adalah reaksi yang bersifat menyerang oleh sistem kekebalan tubuh yang biasanya menyebabkan radang dan kerusakan pada hati. Seperti halnya dengan virus hepatitis A, kita dapat divaksinasikan terhadap HBV untuk mencegah infeksi. Cara penularan HBV sangat mirip dengan HIV. HBV terdapat dalam darah, air mani, dan cairan vagina, dan menular melalui hubungan seks, penggunaan alat suntik narkoba (termasuk jarum, kompor, turniket) bergantian, dan mungkin melalui penggunaan sedotan kokain dan pipa ‘crack’. Perempuan hamil dengan hepatitis B juga dapat menularkan virusnya pada bayi, kemungkinan besar saat melahirkan. Jumlah virus (viral load) hepatitis B dalam darah jauh lebih tinggi daripada HIV atauvirus hepatitis C, jadi HBV jauh lebih mudah menular dalam keadaan tertentu (misalnya dari ibu-ke-bayi saat melahirkan). Seperti hepatitis A, hepatitis B dapat menyebabkan hepatitis akut bergejala. Tetapi berbeda dengan hepatitis A, hepatitis B dapat menjadi infeksi kronis (menahun). Ini berarti bahwa sistem kekebalan tubuh tidak mampu memberantas virus dalam enam bulan setelah terinfeksi. Dengan kata lain, virus tersebut terus berkembang dalam hati selama beberapa bulan atau tahun setelah terinfeksi. Hal ini meningkatkan risiko kerusakan hati dan kanker hati. Lagi pula, seseorang dengan HBV kronis dapat menularkan orang lain.

            Tidak semua yang terinfeksi HBV mengalami gejala hepatitis.Antara 30 dan 40 persen orang terinfeksi virus ini tidak mengalami gejala apa pun. Gejala, bila ada, biasanya timbul dalam empat sampai enam minggu setelah terinfeksi, dan dapat berlangsung dari beberapa minggu sampai beberapa bulan.Gejala hepatitis B akut serupa dengan gejala infeksi HAV. Beberapa orang yang mengalami gejala hepatitis B akut merasa begitu sakit dan lelah sehingga mereka tidak dapat melakukan apa-apa selama beberapa minggu atau bulan.Bila sistem kekebalan tubuh tidak mampu mengendalikan infeksi HBV dalam enam bulan, gejala hepatitis B kronis dapat muncul.

Hepatitis C

 

Hepatitis C disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV). Virus ini dapat mengakibatkan infeksi seumur hidup, sirosis hati, kanker hati, kegagalan hati, dan kematian. Belum ada vaksin yang dapat melindungi terhadap HCV, dan diperkirakan 3 persen masyarakat umum di Indonesia terinfeksi virus ini. HCV dapat menyebar dari darah orang yang terinfeksi yang masuk ke darah orang lain melalui cara yang berikut: memakai alat suntik (jarum suntik, semprit, dapur, kapas, air) secara bergantian, kecelakaan ketusuk jarum, luka terbuka atau selaput mukosa (misalnya di dalam mulut,vagina, atau dubur), dan produk darah atau transfusi darah yang tidak diskrining.

Banyak orang dengan hepatitis C kronis juga tidak mengalami gejala penyakit hati.Artinya, mereka tidak merasa atau kelihatan sakit. Bila terjadi,gejala biasanya ringan, tidak sangat khusus, cenderung bersifat sementara, dan mirip dengan gejala yang dialami dengan hepatitis C akut. Bila infeksi HCV menyebabkan kerusakan yang parah pada hatidan/atau sirosis, gejala bisa terjadi atau memburuk. Selain kelelahan, gejala ini dapat termasuk hilang nafsu makan, mual,sakit kepala, demam, muntah, sakit kuning, kehilangan bera tbadan, gatal, depresi, suasana hati berubah-ubah, bingung, sakit pada otot dan sendi, sakit perut, dan pembengkakan pada pergelangan kaki dan perut membuncit.

 

Hepatitis jenis lain

 

Selain dari yang telah disebutkan di atas, masih terdapat beberapa jenis hepatitis yang dapat menyebabkan gangguan pada hati, yaitu virus hepatitis delta (HDV, yang hanya menyebabkan masalah pada orang yang terinfeksi HBV), virus hepatitis E (HEV, gejala hampir sama dengan hepatitis A dan tidak menyebabkan kematian), dan virus hepatitis G (HGV, gejalanya serupa dengan penyakit hepatitis C dan sering kali infeksi bersamaan dengan hepatitis B dan / C).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2

PEMBAHASAN

 

Upaya Pencegahan dan Pengobatan Hepatitis

 

 

 

  1. A.  Primary Prevention

 

Primary prevention atau upaya pencegahan primer merupakan upaya pencegahan yang dilakukan sebelum suatu penyakit terjadi. Upaya ini umumnya bertujuan mencegah terjadinya penyakit dan sasarannya adalah faktor penyebab, faktor penjamu, serta lingkungan. Primary prevention ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: health promotion dan general & specific protection.

 

  1. Health promotion

Health promotion atau promosi kesehatan merupakan salah satu upaya preventif yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit hepatitis. Adapun bentuk-bentuk pencegahan-nya adalah sebagai berikut :

a.)    Pendidikan atau penyuluhan kesehatan

Penyuluhan kesehatan merupakan salah satu upaya dalam rangka pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat. Penyakit hepatitis merupakan salah satu penyakit yang harus diketahui oleh masyarakat dan peran sebuah puskesmas atau lembaga kesehatan lainnya dalam memberikan pendidikan kesehatan menjadi harapan yang sangat penting bagi masyarakat.

b.)    Mengubah perilaku

Mengubah perilaku dalam menanggulangi penyakit hepatitis salah satunya yaitu berorientasi pada perilaku yang diharapkan perilaku sehat sehingga mempunyai kemampuan mengenal masalah dalam dirinya, keluarga dan kelompok dalam meningkatkan kesehatannya.

c.)    Mengubah gaya hidup

Penyakit hepatitis suatu kelainan berupa peradangan organ hati yang dapat disebabkan oleh banyak hal antara lain infeksi virus dalam metabolisme. Mengubah gaya hidup yaitu dengan pastikan makan dan minuman yang masuk kedalam tubuh kita adalah makanan yang bersih, dan minuman yang telah direbus hingga mendidih, menjaga kebersihan lingkungan, serta merubah cara bergaul ke arah yang lebih baik. Selain itu, kita juga harus menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menghindari kontak dengan sumber infeksi, misalnya darah dan jarum suntik yang tercemar, serta menghindari kontak intim dengan penderita hepatitis yang menular.

d.)   Meningkatkan kesadaran

Meyakinkan kepada seluruh masyarakat khususnya daerah tempat tinggal kita, bahwa bahaya penyakit hepatitis bukanlah penyakit yang bisa disepelekan begitu saja.

 

  1. General & specific protection.

General and specific protection atau perlindungan khusus terhadap penularan hepatitis dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:

a)    Perbaikan kondisi dan sanitasi lingkungan

Specific protection yaitu perlindungan khusus terhadap penularan hepatitis B dan C dapat dilakukan melalui sterilisasi benda–benda yang tercemar dengan pemanasan dan tindakan khusus seperti penggunaan yang langsung bersinggungan dengan darah, serum, cairan tubuh dari penderita hepatitis, juga pada petugas kebersihan, penggunaan pakaian khusus sewaktu kontak dengan darah dan cairan tubuh, cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan penderita pada tempat khusus. Untuk mencegah hepatitis A dapat dilakukan dengan cara memperbaiki saluran wc/ tinja. Hal ini dilakukan agar penyebaran virus hepatitis A melalui feses terputus.

b)   Vaksinasi

Vaksinasi adalah memberikan kekebalan aktif pada seseorang , sehingga ia kebal terhadap penyakit tertentu. Saat ini, vaksinasi hanya tersedia untuk pencegahan hepatitis A dan hepatitis B. Bentuk-bentuk hepatitis disebabkan oleh inveksi virus yang dapat dicegah dengan vaksin aman dan terjangkau. Vaksin hepatitis telah tersedia untuk siapa saja, tetapi lebih dikhususkan pada orang yang beresiko tinggi tertular penyakit ini.

 

  1. B.  Secondary prevention

 

Secondary prevention atau upaya pencegahan sekunder merupakan upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit sudah berlangsung tetapi belum timbul tanda atau gejala sakit. Tujuan upaya pencegahan ini adalah untuk mencegah meluasnya penyakit, mencegah timbulnya wabah serta proses penyakit lebih lanjut. Sasarannya adalah penderita atau suspect (dianggap penderita dan terancam menderita). Pada pencegahan sekunder termasuk upaya bersifat diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment).

 

  1. Early diagnosis

Ada beberapa jenis hepatitis yang tidak menunjukkan gejala apapun ketika menyerang sistem imunitas manusia, misalnya hepatitis C. Gejala seperti demam, kelemahan, dan sebagainya baru muncul setelah 8 minggu. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan atau diagnosa lebih lanjut. Diagnosa ini biasanya dilakukan dokter di laboratorium. Terdapat dua cara diagnosa, yaitu untuk hepatitis akut (masa penyakit kurang dari 6 bulan) dan hepatitis kronis (masa penyakit lebih dari 6 bulan).

Pemeriksaan untuk diagnosa hepatitis akut meliputi:

  • Pemeriksaan enzim SGOT dan SGPT
  • Pemeriksaan penanda virus untuk menentukan virus penyebabnya. Hal ini penting karena perjalanan penyakit berbeda bila virus penyebabnya berbeda. IgM anti HAV untuk melihat adanya infeksi virus hepatitis A, IgM anti HBc untuk hepatitis B dan IgM anti HCV untuk hepatitis C, anti HDV untuk hepatitis D dan IgM anti HEV untuk hepatitis E.

 

Pemeriksaan untuk diagnosa hepatitis kronik meliputi:

  • Pemeriksaan enzim SGOT dan SGPT
  • Pemeriksaan HbsAg, anti HBc, HbeAg, HBV-DNA untuk hepatitis kronik karena virus B
  • Pemeriksaan anti HCV untuk hepatitis kronik karena virus C
  • Pemeriksaan Elektroforesis Protein perlu untuk mendeteksi sirosis hati (Pengerutan hati)
  • Pemeriksaan AFP (Alfa Fetoprotein) diperlukan untuk mendeteksi kanker hati

 

  1. Prompt treatment

Prompt treatment atau pengobatan segera dapat dilakukan ketika seseorang telah menunjukkan gejala-gejala hepatitis, baik hepatitis A, B, C, ataupun yang lainnya. Ada beberapa metode atau cara pengobatan bagi orang yang terkena hepatitis.

a)    Hepatitis A

Penderita yang menunjukkan gejala hepatitis A seperti minggu pertama munculnya yang disebut penyakit kuning, letih dan sebagainya diatas, diharapkan untuk istirahat total dan tidak banyak beraktivitas serta segera mengunjungi fasilitas pelayan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pengobatan dari gejala yang timbul seperti paracetamol sebagai penurun demam dan pusing, vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan nafsu makan serta obat-obatan yang mengurangi rasa mual dan muntah.

b)   Hepatitis B

Penderita yang diduga Hepatitis B, untuk kepastian diagnosa yang ditegakkan maka akan dilakukan pemeriksaan darah. Setelah diagnosa ditegakkan sebagai hepatitis B, maka ada cara pengobatan untuk hepatitis B, yaitu pengobatan telan (oral) dan secara injeksi.

  • Pengobatan oral yang terkenal adalah :
    -Pemberian obat Lamivudine dari kelompok nukleosida analog, yang dikenal dengan nama 3TC. Obat ini digunakan bagi dewasa maupun anak-anak, Pemakaian obat ini cenderung meningkatkan enzyme hati (ALT) untuk itu penderita akan mendapat monitor bersinambungan dari dokter.
    – Pemberian obat Adefovir dipivoxil (Hepsera). Pemberian secara oral akan lebih efektif, tetapi pemberian dengan dosis yang tinggi akan berpengaruh buruk terhadap fungsi ginjal.

– Pemberian obat Baraclude (Entecavir). Obat ini diberikan pada penderita Hepatitis B kronik, efek samping dari pemakaian obat ini adalah sakit kepala, pusing, letih, mual dan terjadi peningkatan enzyme hati.

  • · Pengobatan dengan injeksi/suntikan adalah:
    Pemberian suntikan Microsphere yang mengandung partikel radioaktif pemancar sinar ß yang akan menghancurkan sel kanker hati tanpa merusak jaringan sehat di sekitar-nya. Injeksi Alfa Interferon (dengan nama cabang INTRON A, INFERGEN, ROFERON) diberikan secara subcutan dengan skala pemberian 3 kali dalam seminggu selama 12-16 minggu atau lebih. Efek samping pengobatan ini adalah terasa sakit pada otot-otot, cepat letih dan sedikit menimbulkan demam yang hal ini dapat dihilangkan dengan pemberian paracetamol.

 

  1. C.  Tertiary prevention

 

Tertiary prevention atau upaya pencegahan tersier merupakan upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit sudah lanjut. Tujuannya adalah untuk pencegahan cacat dan komplikasi, bertambahnya penyakit, dan kematian. Sedangkan, sasarannya adalah penderita penyakit itu sendiri. Pada proses pasca-patogenesis, terdapat beberapa kemungkinan tingkat kesembuhan, yaitu: sembuh sempurna, baik bentuk dan fungsi tubuh kembali semula seperti keadaan sebelum sakit; sembuh dengan cacat, kesembuhan tidak sempurna, dan ditemukan cacat pada pejamu (kondisi cacat dapat berupa cacat fisik, fungsional dan social); serta karier, dalam diri pejamu masih ditemukan bibit penyakit dan suatu saat penyakit dapat timbul kembali (daya tahan tubuh menurun). Untuk meminimalisir kondisi cacat dan kerier ketika pasca-patogenesis, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu disability limitation dan rehabilitation.

 

  1. Disability limitation

Disability Limitation atau pembatasan kecacatan berusaha untuk menghilangkan gangguan kemampuan berfikir dan bekerja yang diakibatkan oleh penyakit hepatitis. Usaha ini merupakan lanjutan dari usah early diagnosis and promotif treatment yaitu dengan pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita sembuh kembali dan tidak cacat ( tidak terjadi komplikasi ). Bila sudah terjadi kecacatan maka dicegah agar kecacatan tersebut tidak bertambah berat dan fungsi dari alat tubuh yang cacat ini dipertahankan semaksimal mungkin. Disability limitation termasuk:

a)    Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan.

Hepatitis dapat berlangsung singkat (akut) kemudian sembuh total. Namun dapat pula berkembang menjadi masalah menahun (kronis). Tingkat keparahan hepatitis bervariasi, mulai dari kondisi yang dapat sembuh sendiri secara total, kondisi yang mengancam jiwa, menjadi penyakit menahun, hingga gagalnya fungsi hati (liver). Sedangkan hepatitis kronis terjadi jika sebagian hati (liver) yang mengalami peradangan berkembang sangat lambat, tetapi sebagian lain dapat menjadi aktif dan semakin memburuk dalam hitungan tahun. Akibat dari hepatitis kronis yang memburuk adalah terjadinya sirosis atau kanker hati. Untuk mencegah  terjadinya kerusakan pada hati lebih lanjut, sebaiknya penderita hepatitis (terutama hepatitis kronis) melakukan pengobatan secara menyeluruh dan tuntas. Bila perlu, check up secara rutin ke dokter untuk pemberian vitamin agar hati berfungsi dengan baik kembali.

b)  Pengadaan dan peningkatan fasilitas kesehatan dengan melakukan pemerikasaan lanjut yang lebih akurat seperti pemeriksaan laboratorium dan pemerikasaan penunjang lainnya agar penderita dapat sembuh dengan baik dan sempurna tanpa ada komplikasi lanjut.

 

c)  Penyempurnaan pengobatan agar tidak terjadi komplikasi

Masyarakat diharapkan mendapatkan pengobatan yang tepat dan benar oleh tenaga kesehatan agar penyakit yang dideritanya tidak mengalami komplikasi. Selain itu untuk mencegah terjadinya komplikasi maka penderita yang dalam tahap pemulihan, dianjurkan untuk berkunjung ke fasilitas kesehatan secara rutin untuk melakukan pemeriksaan rutin agar penderita sembuh secara sempurna.

 

  1. Rehabilitation

Rehabilitasi adalah usaha untuk mencegah terjadinya akibat samping dari penyembuhan penyakit & pengembalian fungsi fisik, psikologik dan sosial. Tindakan ini dilakukan pada seseorang yang proses penyakitnya telah berhenti. Tujuannya adalah untuk berusaha mengembalikan penderita kepada keadaan semula (pemulihan kesehatan) atau paling tidak berusaha mengembalikan penderita pada keadaan yang dipandang sesuai dan mampu melangsungkan fungsi kehidupannya. Dalam penyembuhan penyakit hepatitis, proses rehabilitasi meliputi:

a)     Rehabilitasi mental

Yaitu agar bekas penderita dapat menyesuikan diri dalan hubungan perorangan dan social secara memuaskan. Seringkali bersamaan dengan terjadinya cacat badaniah muncul pula kelainan-kelainan atau gangguan mental. Untuk hal ini bekas penderita perlu mendapatkan bimbingan kejiwaan sebelum kembali ke dalam masyarakat. Seperti pada penderita hepatitis yang mengalami penurunan semangat hidup, penderita harus menjalani rehabilitasi mental untuk mengembalikan semangat hidup.

b)    Rehabilitasi social vokasional

Yaitu agar bekas penderita menempati suatu pekerjaan/jabatan dalam masyarakat dengan kapasitas kerja yang semaksimal-maksimalnya sesuai dengan kemampuan dan ketidakmampuannya.

c)     Rehabilitasi aesthetis

Usaha rehabilitasi aesthetis perlu dilakukan untuk mengembalikan rasa keindahan, walaupun kadang-kadang fungsi dari alat tubuhnya itu sendiri tidak dapat dikembalikan misalnya: penggunaan mata palsu. Seperti pada penderita hepatitis yang tidak memungkinkan hatinya bekerja secara normal seperti orang yang sehat.

 

 

 

 

BAB 3

PENUTUP

 

 

3.1    Kesimpulan

 

Penyakit Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh beberapa jenis virus yang menyerang dan menyebabkan peradangan serta merusak sel-sel organ hati manusia. Di Indonesia penderita penyakit hepatitis umumnya cenderung lebih banyak mengalami golongan hepatitis A, B dan hepatitis C. Selain dengan cara penyembuhan tradisional seperti pengobatan biasa, ternyata masih ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menanggulangi penyakit hepatitis. Cara-cara ini dirangkum dalam “Level of Prevention” yang terdiri dari upaya pencegahan primer, upaya pencegahan sekunder, dan upaya pencegahan tersier. Upaya-upaya pencegahan ini akan berlangsung efektif apabila dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisinya serta secara berkesinambungan.

 

3.2  Saran

 

Hepatitis merupakan salah satu penyakit menular yang apabila tidak segera diatasi akan bertambah banyak orang yang mengidapnya. Hepatitis disebabkan oleh virus dan penularannya berjalan dengan cepat melalui makanan yang kotor, feses, penggunaan jarum suntik serta obat-obatan. Oleh karena itu, diperlukan suatu cara untuk memutus rantai penularan hepatitis ini. Cara yang paling mudah dan efektif adalah dengan melakukan upaya pencegahan primer. Jadi, sebelum virus itu berkembang luas sebaiknya kita melakukan usaha untuk memutus rantai hidup si virus tersebut, diantaranya bisa melalui cara: penyuluhan dan pendidikan kesehatan. Akan tetapi, menurut kami dalam upaya pencegahan ini individu lah yang paling berperan penting. Sebab, pola perilaku atau gaya hidup yang kebanyakan penyakit semakin betah. Kesimpulannya, “mencegah itu lebih baik daripada mengobati”. Sebelum penyakit itu muncul, kita harus menjaga kesehatan, melakukan pola hidup bersih dan sehat, menjaga kondisi lingkungan terutama yng berhubungan dengan makanan, serta menghindari kontak dengan sumber yang kemungkinan besar terinfeksi seperti jarum suntik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Sulaiman Ali, Yulitasari, 1995. Virus Hepatitis A sampai E di Indonesia, Yayasan

Penerbitan IDI, Jakarta

 

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3706/1/fkm-fazidah.pdf

http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=505

http://spiritia.or.id/Dok/Hepatitis.pdf

http://id.wikipedia.org/wiki/Hepatitis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: